BMKG Siap Uji Sistem Peringatan Dini 20 Detik Sebelum Gempa Bumi Terjadi | IVoox Indonesia

April 3, 2026

BMKG Siap Uji Sistem Peringatan Dini 20 Detik Sebelum Gempa Bumi Terjadi

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani memberikan keterangan dalam konferensi pers terkait gempa bumi-potensi tsunami di Maluku Utara-Sulawesi Utara di Jakarta, Kamis (2/4/2026) ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo

IVOOX.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) siap melakukan uji coba sistem peringatan dini gempa bumi atau Earthquake Early Warning System/EEWS yang mampu memberikan jeda waktu hingga 20 detik bagi masyarakat untuk melakukan evakuasi sebelum guncangan utama terjadi.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan uji coba tersebut akan dilakukan pada bulan ini di Jakarta, Jawa Barat, dan Lampung, setelah melalui pengembangan selama satu hingga dua tahun terakhir.

"Pada bulan ini kami akan mencoba melakukan operasionalisasi dari sistem Earthquake Early Warning System," kata dia di Jakarta, Kamis (2/4/2026), dikutip dari Antara.

Dia menjelaskan sistem tersebut bekerja dengan mendeteksi gelombang primer (P-wave) yang muncul lebih cepat dibandingkan gelombang sekunder (S-wave) yang bersifat lebih merusak.

Melalui pemantauan gelombang awal tersebut, kata dia, sistem dapat memperkirakan waktu kedatangan guncangan utama sehingga masyarakat memiliki kesempatan untuk mengambil langkah penyelamatan.

“Bergantung pada jarak dari pusat gempa, sistem ini dapat memberikan waktu dari belasan detik hingga sekitar 20 detik sebelum guncangan kuat dirasakan,” ujarnya.

Faisal menegaskan teknologi ini tidak digunakan untuk memprediksi kapan gempa akan terjadi, melainkan memberikan peringatan saat gempa mulai berlangsung.

BMKG optimistis dalam kurun waktu singkat tersebut, masyarakat dapat melakukan berbagai tindakan mitigasi seperti berlindung di tempat aman, menuju titik evakuasi, hingga menghentikan aktivitas berisiko.

Adapun pengembangan sistem tersebut merupakan hasil kerja sama BMKG dengan mitra pengembang yang telah berlangsung selama empat tahun terakhir dan memerlukan investasi yang cukup besar, khususnya dalam pemasangan sensor dan penguatan jaringan pemantauan.

Hal ini penting dilakukan mengingat Indonesia merupakan negara berpotensi tinggi terdampak bencana gempa bumi yang semakin diperkuat dengan adanya 13 area-area subduksi atau dikenal dengan zona-zona Megathrust.

Dengan uji coba ini, kata dia, BMKG berharap masyarakat dapat semakin memahami pentingnya respons cepat dalam menghadapi gempa, sehingga risiko korban jiwa dan kerusakan dapat diminimalkan.

Alat Deteksi Tsunami Berfungsi di Malut dan Sulut

Sementara, BMKG memastikan sembilan alat deteksi tsunami yang terpasang di wilayah Maluku Utara (Malut) dan Sulawesi Utara (Sulut) berfungsi dengan baik dalam memantau dampak lanjutan dari gempa 7,6 magnitudo yang terjadi, Kamis, 2 April 2026.

"Sistem peringatan dini multi-bencana atau Multi-Hazard Early Warning System yang telah dikembangkan selama empat tahun terakhir terbukti bekerja secara efektif dalam situasi ini," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (2/4/2026), dikutip dari Antara.

Dia menilai sistem peringatan dini tsunami berjalan sesuai prosedur operasional standar sejak gempa terjadi, sehingga pihaknya berhasil menyampaikan informasi awal gempa dan potensi tsunami kurang dari tiga menit setelah kejadian.

Selanjutnya, peringatan dini kedua dikeluarkan delapan menit kemudian, sebelum akhirnya peringatan tsunami diakhiri dua jam setelah estimasi waktu tiba (Estimated Time of Arrival/ETA) gelombang pertama.

Adapun dari sembilan alat pengukur pasang surut atau tide gauge yang mencatat kejadian tsunami itu, enam diantaranya merupakan milik BMKG dan tiga lainnya milik Badan Informasi Geospasial (BIG).

“Dengan ketinggian gelombang tsunami berkisar antara 0,25 hingga 0,75 meter, namun pada beberapa lokasi tertentu ketinggian dapat meningkat karena kondisi geografis wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara yang kompleks, seperti keberadaan pulau-pulau kecil dan teluk,” kata Teuku Faisal Fathani.

Dengan demikian, lanjutnya, pemerintah sangat mengandalkan peralatan sensorik yang ada tersebut untuk mengurangi risiko besarnya dampak bencana yang ditimbulkan terhadap masyarakat.

Hal tersebut sebagaimana hasil monitoring BMKG yang mendapati gempa tektonik yang terjadi pada pukul 05.48 WIB dengan kedalaman 33 kilometer tersebut tergolong gempa dangkal akibat aktivitas sesar naik sehingga berpotensi memicu tsunami.

Selain itu BMKG juga mencatat aktivitas gempa susulan yang cukup tinggi hingga pukul 12.00 WIB dengan total 93 kejadian dan magnitudo mencapai 5,5 - 6.

Kondisi itu diyakini para ahli BMKG masih perlu diwaspadai karena potensi gempa susulan diperkirakan dapat berlangsung selama satu hingga dua pekan ke depan, tergantung pada dinamika aktivitas seismik di wilayah tersebut.

"Pemantauan akan terus dilakukan karena aktivitas gempa susulan masih cukup tinggi. Diharapkan dengan koordinasi yang baik, dampak korban jiwa dan kerusakan dapat ditekan seminimal mungkin,” ujarnya.

0 comments

    Leave a Reply