Bukber atau Ajang Flexing? Yuk Balikin Lagi ke Esensinya | IVoox Indonesia

5 Maret 2026

Bukber atau Ajang Flexing? Yuk Balikin Lagi ke Esensinya

Bukber atau Ajang Flexing? Yuk Balikin Lagi ke Esensinya
ILUSTRASI: IVOOXID/AI

IVOOX.id, Jakarta - Undangan buka bersama mulai berdatangan sejak awal Ramadan. Dari grup sekolah, kantor, komunitas, sampai circle yang sudah lama tak bersua. Bukber seharusnya jadi momen hangat: ketawa bareng, nostalgia, dan mempererat silaturahmi. Tapi di tengah budaya media sosial yang serba tampil, makna itu kadang bergeser.

“Outfit sudah oke belum?”

“Tempatnya estetik nggak?”

“Story Instagram nanti pakai lagu apa ya?”

Kalimat-kalimat itu mungkin terdengar familiar menjelang buka bersama. Bukber yang seharusnya jadi momen ketemu dan ngobrol santai, kadang berubah jadi ajang pembuktian versi halus. Siapa yang paling glowing, siapa yang kariernya paling naik, siapa yang sudah punya gadget terbaru, atau memakai kostum dari brand ternama.

Di era media sosial, wajar kalau kita ingin terlihat baik-baik saja. Milenial dan Gen Z tumbuh di budaya digital yang bikin momen terasa “resmi” setelah diunggah. Tapi tanpa sadar, bukber bisa bergeser dari silaturahmi jadi panggung kecil untuk flexing.

Tidak sedikit yang datang dengan tekanan tak terlihat. Harus tampil maksimal. Bahkan ada yang lebih sibuk cari angle foto daripada benar-benar terlibat dalam obrolan di meja makan.

Padahal, dalam etika sosial sederhana, esensi pertemuan adalah kehadiran yang utuh. Bukan sekadar fisik yang datang, tapi juga perhatian yang benar-benar terlibat.

Hal yang sering terlupa adalah sensitivitas terhadap kondisi orang lain. Tidak semua teman sedang berada di fase finansial yang sama. Memilih tempat terlalu mahal bisa membuat sebagian merasa tertekan. Membahas pencapaian secara berlebihan juga bisa menciptakan jarak yang tak perlu. Bukber mestinya jadi ruang aman, bukan ruang kompetisi.

Etika lain yang kerap terlewat adalah soal waktu. Datang terlambat tanpa kabar, membatalkan di menit terakhir, atau sibuk sendiri dengan ponsel bisa memberi kesan kurang menghargai. Hal-hal kecil ini terlihat sepele, tapi berdampak pada kualitas kebersamaan.

Ramadan sebenarnya mengajarkan tentang menahan diri, termasuk dalam hal menunjukkan sesuatu secara berlebihan. Pamer pencapaian, pamer relasi, bahkan pamer menu berbuka bisa terasa biasa saja di timeline, tapi berbeda dampaknya ketika dilakukan di ruang pertemuan langsung.

Bagi generasi muda yang sadar akan pentingnya koneksi sosial, mungkin ini saatnya mendefinisikan ulang makna bukber. Bukan soal siapa yang paling update, siapa yang paling sukses, atau siapa yang paling terkenal di media sosial, tapi siapa yang benar-benar hadir dan mendengar.

Mengunggah momen tentu tidak salah. Mendokumentasikan kebersamaan juga wajar. Tapi ada batas tipis antara berbagi dan berlebihan.

Yang diingat dari sebuah buka bersama bukanlah filter yang dipakai atau restoran yang dipilih, melainkan rasa hangat dari percakapan yang tulus.

Penulis: Maulana Haitami

0 comments

    Leave a Reply