CORE Ingatkan Agenda Percepatan Hilirisasi Bisa Terrdampak Kesepakatan Tarif Dagang dengan AS | IVoox Indonesia

21 Februari 2026

CORE Ingatkan Agenda Percepatan Hilirisasi Bisa Terrdampak Kesepakatan Tarif Dagang dengan AS

antarafoto-target-produksi-sawit-tahun-2045-1762335338-1
Pekerja menimbang tandan buah segar (TBS) di salah satu pengepul di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Rabu (5/11/2025). Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia menyebutkan target produksi sawit pada tahun 2045 dapat mencapai 92 juta ton, angka tersebut hampir dua kali lipat dari produksi saat ini yang berkisar 53 juta ton. ANTARA FOTO/Auliya Rahman

IVOOX.id – Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengingatkan agar pemerintah tetap berfokus pada agenda percepatan hilirisasi untuk mendongkrak industri dalam negeri, baik itu di sektor pengolahan hasil pertanian/perkebunan maupun pertambangan, di tengah kesepakatan tarif dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). 

Hal itu menyusul hasil akhir negosiasi tarif dagang Indonesia-AS yang tertuang dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang menyebutkan sebanyak 1.819 pos tarif produk asal Indonesia akan mendapatkan fasilitas bea masuk 0 persen ke pasar AS.

“Jadi kalau ada mengurangi lagi hambatan untuk mengekspor bahan mentah, makin mudah orang untuk mengekspor bahan mentah ini dan makin susah untuk kita mendorong hilirisasi perkebunan, yang mana ini merupakan agenda prioritas pemerintah,” kata Faisal, Jumat (20/2/2026), dikutip dari Antara.

Faisal menilai hal itu perlu menjadi perhatian karena kebanyakan pos tarif produk tersebut merupakan komoditas seperti minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah dan karet, yang belum diolah atau diberikan nilai tambah.

“Kalau komoditas utama sawit, kopi, kakao, bukan berarti tidak bagus untuk eksportir yang bahan mentah, ya, (tentu) akan menguntungkan. Tapi bagaimana dengan agenda hilirisasi? Hilirisasi itu salah satu supporting policy-nya adalah dari sisi perdagangan memang merestriksi ekspor bahan mentah. Entah itu total ban atau larangan secara menyeluruh atau dengan memberikan hambatan dalam ekspor seperti ada biaya keluar,” kata Faisal.

“Dan itu diperlukan supaya masuk industri hilir, karena investor di industri hilir perlu memastikan kecukupan bahan baku di domestik,” ujar dia menambahkan.

Selain itu, Faisal mengatakan hal tersebut dapat berpengaruh terhadap upaya pembangunan industri komoditas-komoditas tersebut di dalam negeri.

“Misalnya kakao, selama ini malah kita kekurangan, karena selain produksi di dalam negeri makin lama makin terbatas, sementara yang sudah diproduksi pun banyak prefer untuk di ekspor ke luar negeri daripada ke dalam negeri karena lebih cuan,” ujar dia.

Secara umum, AS masih tetap memberlakukan tarif resiprokal sebesar 19 persen terhadap produk impor dari Indonesia. Meski demikian, daftar 1.819 pos tarif dan produk tekstil yang telah diidentifikasi dalam perjanjian memperoleh pengecualian tarif 0 persen.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Indonesia turut memberikan fasilitas tarif 0 persen bagi sejumlah produk asal AS, terutama komoditas pertanian seperti gandum dan kedelai.

Kedua negara juga sepakat untuk tidak mengenakan Bea Masuk atas transaksi ekonomi digital.

Selain itu, kedua negara mencatat tercapainya komitmen yang mencakup pembelian komoditas energi AS sekitar 15 miliar dolar AS, pengadaan pesawat Boeing senilai sekitar 13,5 miliar dolar AS, serta pembelian produk pertanian AS lebih dari 4,5 miliar dolar AS.

0 comments

    Leave a Reply