Ekonom Dorong Pemerintah Bangun Skema Pendanaan di Luar Dolar AS | IVoox Indonesia

April 20, 2026

Ekonom Dorong Pemerintah Bangun Skema Pendanaan di Luar Dolar AS

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian ditemui di kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (21/1/2026). (ANTARA/Maria Cicilia Galuh)

IVOOX.id – Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai pemerintah Indonesia perlu segera mengadopsi kebijakan progresif dalam membangun arsitektur pendanaan alternatif di luar dominasi dolar Amerika Serikat (AS).

Ia menekankan pentingnya mempercepat penguatan skema local currency settlement (LCT) dalam perdagangan bilateral, memperluas penggunaan mata uang dengan biaya dana lebih rendah seperti CNH, serta memperdalam pasar keuangan domestik berbasis rupiah, khususnya instrumen jangka panjang. Diversifikasi basis investor juga disebut sebagai langkah krusial.

“Indonesia tidak bisa lagi hanya menjadi price taker dalam sistem keuangan global. Kita harus mulai menjadi arsitek, atau setidaknya co-architect, dari sumber pendanaan kita sendiri,” ujar Fakhrul di Jakarta, Senin (20/4/2026), dikutip dari Antara.

Dalam pertemuan IMF dan Bank Dunia di Washington D.C. baru-baru ini, stabilitas makroekonomi dan kerja sama global kembali ditekankan. Namun, menurut Fakhrul, pendekatan itu belum cukup menjawab tantangan struktural.

“IMF dan World Bank masih berbicara dalam kerangka lama, stabilitas, koordinasi, dan kehati-hatian fiskal. Itu penting, tapi tidak cukup. Dunia sudah berubah jauh lebih cepat dari bahasa kebijakan yang mereka gunakan,” katanya.

Fakhrul menyoroti ketidakseimbangan likuiditas global akibat menurunnya suplai dolar dan meningkatnya peran CNH dalam perdagangan lintas negara.

“Kita melihat dua arus besar yang bergerak berlawanan, suplai dolar global yang semakin terbatas, sementara CNH mulai diperluas penggunaannya. Ini menciptakan ketidakseimbangan baru, tapi sekaligus membuka peluang strategis,” ujarnya.

Ia menambahkan, fragmentasi global saat ini bukan sekadar gangguan sementara, melainkan transisi menuju sistem multipolar. Dalam kondisi tersebut, akses likuiditas akan sangat bergantung pada jaringan bilateral, regional, dan fleksibilitas kebijakan nasional.

“Kalau kita masih membaca dunia dengan kacamata lama, bahwa likuiditas global akan selalu tersedia dan murah, seperti belasan tahun terakhir, kita akan tertinggal. Dunia ke depan adalah dunia di mana likuiditas harus diperjuangkan, bukan diasumsikan,” kata Fakhrul.

Lebih lanjut, ia menekankan perlunya pemerintah menyampaikan arah kebijakan secara eksplisit agar pasar memahami strategi Indonesia menghadapi perubahan global.

“Pasar hari ini tidak hanya menilai stabilitas, tetapi juga arah. Tanpa komunikasi yang jelas, kita berisiko kehilangan momentum,” ujar Fakhrul.

Fakhrul memperingatkan bahwa peluang besar dari perubahan ini juga membawa risiko signifikan.

“Kalau kita hendak menumbuhkan ekonomi sampai 8 persen, kita harus selesaikan masalah pendanaannya yang biasa menjadi masalah bertahun-tahun, dan dalam hal ini, membuka pembiayaan CNH adalah solusi,” katanya. 

0 comments

    Leave a Reply