ENI Temukan Cadangan Gas Raksasa di Blok Ganal, Pemerintah Targetkan Kenaikan Produksi 2028 | IVoox Indonesia

April 20, 2026

ENI Temukan Cadangan Gas Raksasa di Blok Ganal, Pemerintah Targetkan Kenaikan Produksi 2028

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers di Gedung Kementerian ESDM Jakarta Senin (20/4/2025). IVOOX.ID/Fahrurrazi Assyar

IVOOX.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengungkapkan penemuan cadangan gas berukuran besar oleh perusahaan energi asal Italia ENI di Sumur Geliga, Wilayah Kerja Blok Ganal, Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur. Temuan ini disebut sebagai salah satu potensi besar yang dapat memperkuat ketahanan energi nasional.

Menurut Bahlil, cadangan gas di wilayah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 5 triliun kaki kubik. Selain itu, terdapat potensi kondensat yang signifikan dengan estimasi mencapai 300 juta barel setara minyak.

“ENI baru mendapatkan satu wilayah kerja baru, giant (raksasa), dari blok Geliga, yang menghasilkan 5 triliun cubic feet untuk gas,” kata Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (20/4/2026).

Ia menambahkan bahwa temuan ini menjadi momentum penting bagi pemerintah untuk meningkatkan produksi gas dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor energi. Saat ini, produksi gas dari proyek tersebut masih berada di kisaran 600 hingga 700 juta standar kaki kubik per hari (MMscf/d).

Namun ke depan, pemerintah menargetkan lonjakan produksi yang signifikan. “Maka ENI pada 2028 itu (produksinya) bisa kita maksimalkan mencapai kurang lebih sekitar 2.000 MM untuk gas. Sekarang produksinya kurang lebih sekitar 600 sampai 700 (MM). Nanti 2028 kita akan berkembang di sekitar kurang lebih 2.000 MM,” ujarnya.

Lebih lanjut, produksi tersebut diproyeksikan terus meningkat hingga mencapai sekitar 3.000 MMscf/d pada 2030. Selain gas, produksi kondensat juga diperkirakan mengalami peningkatan bertahap, dari sekitar 90.000 barel per hari pada 2028 menjadi 150.000 barel per hari pada 2029-2030.

Bahlil menegaskan bahwa pengembangan proyek ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperkuat kemandirian energi nasional. “Ini adalah strategi untuk bagaimana gas kita tidak kita lakukan impor dari negara mana pun. Kita harus memenuhi kebutuhan dalam negeri kita, dan gas ini kita akan dorong untuk industri hilirisasi,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa peningkatan produksi kondensat akan berdampak langsung terhadap pengurangan impor minyak mentah. “Dan yang kedua, ini akan mengurangi impor crude (minyak mentah) kita dengan penambahan kondesat kurang lebih sekitar 90.000-150.000 barel nanti pada tahun 2030,” ujarnya.

0 comments

    Leave a Reply