FOMO Bukber? Cara Bijak Pilih Undangan Tanpa Bikin Dompet Menangis

IVOOX.id, Jakarta - Masuk minggu kedua Ramadan, notifikasi mulai berdatangan. “Bukber angkatan SMA yuk.” “Tim kantor kapan kosong?” “Anak komunitas kumpul dong sebelum Lebaran.” Lalu bagaimana cara bijak agar dompet tetap aman?
Fenomena fear of missing out atau FOMO bukan hal baru di kalangan milenial dan Gen Z. Dalam banyak pembahasan psikologi populer, FOMO dijelaskan sebagai kecemasan ketika merasa tertinggal dari momen sosial yang dialami orang lain. Media sosial memperkuat efek ini.
Setiap kali melihat unggahan foto buka bersama yang seru, muncul dorongan untuk ikut hadir di semua acara agar tidak merasa “ketinggalan cerita”.
Masalahnya, satu acara mungkin terasa ringan. Tapi lima sampai delapan undangan dalam sebulan bisa berdampak signifikan pada keuangan.
Pengeluaran buka bersama biasanya tidak hanya soal makanan. Ada ongkos transportasi, outfit baru karena ingin tampil rapi, hingga tambahan dessert atau kopi setelahnya. Tanpa perencanaan, pengeluaran kecil yang berulang bisa menggerus anggaran bulanan.
Perencana keuangan kerap menyarankan agar pengeluaran musiman, termasuk acara sosial Ramadan, dimasukkan dalam pos khusus. Artinya, sebelum menerima semua undangan, ada baiknya menentukan batas anggaran realistis. Misalnya, dari awal sudah menetapkan hanya akan menghadiri tiga atau empat acara prioritas.
Memilih untuk tidak menghadiri acara bukber bukan berarti tidak solid, justru itu bentuk kedewasaan finansial.
Langkah pertama adalah memilah mana yang benar-benar bermakna. Bukber keluarga inti mungkin jadi prioritas. Pertemuan dengan sahabat lama yang jarang bertemu juga layak diutamakan. Sementara undangan yang sifatnya formalitas bisa disiasati dengan silaturahmi di waktu lain, misalnya setelah Lebaran atau lewat pertemuan yang lebih sederhana.
Pilihan tempat juga berpengaruh. Tidak semua buka bersama harus di restoran viral atau hotel berbintang. Konsep potluck di rumah, buka bersama di masjid, atau makan sederhana di tempat yang lebih terjangkau tetap bisa menghadirkan kualitas kebersamaan yang sama.
Ada juga strategi sederhana seperti jangan langsung mengiyakan undangan tanpa cek jadwal dan anggaran. Beri jeda untuk berpikir. Respons seperti “Aku cek jadwal dulu ya” bisa menyelamatkan keuangan dan energi.
Yang sering luput, terlalu banyak acara sosial juga menguras stamina. Setelah seharian berpuasa dan bekerja, tubuh tetap butuh istirahat. Memaksakan hadir di setiap undangan bisa membuat Ramadan terasa melelahkan, bukan menyenangkan.
Ramadan sejatinya bukan lomba eksistensi sosial. Ia adalah bulan untuk menata ulang prioritas, termasuk dalam mengelola uang dan waktu. Milenial dan Gen Z dikenal lebih sadar finansial dibanding generasi sebelumnya. Banyak yang sudah mulai menerapkan budgeting, investasi, hingga menahan impuls belanja. Prinsip yang sama bisa diterapkan pada agenda buka bersama.
Karena pada akhirnya, kebersamaan tidak diukur dari seberapa banyak meja yang kita datangi, melainkan seberapa tulus kita hadir di dalamnya. Lebih baik sedikit acara tapi penuh makna, daripada banyak undangan yang hanya meninggalkan sisa tagihan.
Penulis: Maulana Haitami


0 comments