FPT Bentuk Tim Pencari Fakta Dugaan Pelecehan Seksual Pelatih Hendra Basir pada Para Atlet | IVoox Indonesia

27 Februari 2026

FPT Bentuk Tim Pencari Fakta Dugaan Pelecehan Seksual Pelatih Hendra Basir pada Para Atlet

pertandingan speed dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Panjat Tebing
Peserta berlaga di pertandingan speed dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Panjat Tebing Kelompok Umur XIX/2025, yang diselenggarakan oleh PP FPTI, di Tangerang, Banten, pada Sabtu (21/6/2025). ANTARA/Donny Aditra (ANTARA)

IVOOX.id – Sekretaris Umum Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) Wahyu Pristiawan Buntoro mengungkapkan federasi membentuk tim pencari fakta (TPF) setelah pelatih kepala Hendra Basir dinonaktifkan terkait dugaan dugaan tindakan pelecehan seksual kepada para atlet.

"Jadi sesuai surat keputusan (SK) organisasi, maka Hendra Basir diberhentikan sementara sampai dengan ada keputusan dari TPF yang telah dibentuk," kata dia, Selasa (24/2/2026), dikutip dari Antara.

Wahyu Pristiawan menjelaskan, sejak awal federasi berkomitmen untuk tidak menoleransi segala macam persoalan yang menyangkut kekerasan kepada perempuan, anak, dan pelecehan seksual, sehingga sanksi penonaktifan itu diberikan sembari menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut dari TPF yang dibentuk oleh Ketua Umum FPTI Yenny Wahid.

Lebih lanjut dia menjelaskan, sejatinya masa jabatan Hendra juga akan berakhir pada 28 Februari 2026, sehingga apa pun hasil dari TPF, yang bersangkutan memang tidak akan lagi menjadi pelatih kepala untuk ke depannya.

Sebab, berdasarkan SK tim panjat tebing Indonesia yang terbaru, nama pelatih itu tidak lagi tercantum sebagai pelatih.

Pristiawan menyatakan, informasi penonaktifan ini muncul di media pada saat segala sesuatunya sudah dilakukan oleh FPTI, termasuk membentuk TPF.

Jadi sebelum itu, Ketua Umum FPTI dan tim juga sudah melakukan seleksi susunan pelatih untuk periode berikutnya.

"TPF juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak terkait masalah ini, kalau untuk proses hukum di pihak berwenang (polisi) saya belum bisa berkomentar apakah sudah ada atau belum, karena ini juga kasus yang sensitif bagi korban yang merupakan atlet," ujar dia.

Sekum tersebut menambahkan, semua proses penyelidikan internal akan dilakukan secara objektif, walaupun yang bersangkutan sudah banyak berjasa secara prestasi bagi Indonesia. Meski begitu, dia memang menyesalkan dugaan kasus seperti itu bisa terjadi di internal FPTI.

Wahyu mengatakan, insiden tersebut tidak mengganggu pemusatan latihan nasional (pelatnas) tim panjat tebing. "Kasus tersebut telah ditangani oleh para pihak yang memang berkompeten, sedangkan persiapan untuk Asian Games 2026, kami berusaha keras agar masalah itu tidak berdampak kepada tim atau para atlet," kata dia.

Penonaktifan Hendra Basir sebagai kepala pelatih tim panjat tebing Indonesia merupakan buntut dari adanya laporan terkait dugaan pelecehan seksual, hingga kekerasan fisik yang menimpa sejumlah atlet.

Berdasarkan laporan dalam isi Surat Keputusan (SK) FPTI, disebutkan bahwa sebanyak delapan atlet melakukan pengaduan kepada Ketum Yenny Wahid. Mereka melaporkan telah mendapatkan perlakuan tak menyenangkan berupa pelecehan seksual hingga kekerasan fisik.

Peristiwa itu terjadi pada 28 Januari 2026. FPTI pun merespons hal itu dengan mengeluarkan keputusan untuk menonaktifkan sementara Hendra Basir sebagai pelatih kepala. Hal itu dilakukan demi menjamin perlindungan para atlet hingga menjaga objektivitas proses pemeriksaan.

Pelatih kepala tim panjat tebing Indonesia Hendra Basir, menjawab pertanyaan wartawan, di Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (11/10/2025). ANTARA/Donny Aditra (ANTARA)

Pelatih kepala tim panjat tebing Indonesia Hendra Basir, menjawab pertanyaan wartawan, di Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (11/10/2025). ANTARA/Donny Aditra (ANTARA)

Hendra Basir Membantah Melakukan Pelecehan Seksual

Terpisah, pelatih kepala tim panjat tebing Indonesia nonaktif, Hendra Basir, membantah telah melakukan tindakan pelecehan seksual dan kekerasan fisik kepada delapan atlet panjat tebing Indonesia.

"Silakan ditanyakan kepada delapan atlet terkait, bagian yang mana saya melakukan pelecehan seksual dan kekerasan fisik," kata dia, Selasa (25/2/2026), dikutip dari Antara.

Ia mengaku, belum pernah diminta mengklarifikasi tuduhan tersebut hingga terbitnya SK penonaktifan dirinya sebagai pelatih kepala oleh FKPTI. Soal pola latihan keras dan disiplin, kata dia, sudah dilakukan sejak melatih pada 2012.

Dia mengakui bahwa memang terkenal galak dalam melatih para atlet. Tetapi hal itu merupakan bagian dari proses untuk membentuk mental dan fisik yang prima, agar mampu bersaing pada level tertinggi, sehingga bukan untuk menyiksa atau menganiaya.

Sementara, terkait pelecehan seksual, dia mengaku sama sekali tidak pernah melakukan hal tidak senonoh kepada atlet putri, seperti meraba-raba bagian vital, memaksa berhubungan seks, dan lain-lain.

Dia juga mengakui bahwa memang pernah mencium kening atau ubun-ubun dan memeluk atlet putri yang sedang drop saat pertandingan maupun latihan. Namun tindakan semacam itu tidak rutin dilakukan, serta hanya pada momen-momen tertentu semata dan bukan dalam konteks melecehkan.

"Tetapi itu 'kan dalam konteks memberikan semangat kepada mereka kalau sedang menangis atau mentalnya drop, jadi ya pasti saya peluk dan diakhirnya mencium keningnya, layaknya kebiasaan yang saya lakukan kepada anak saya kalau habis salat atau mau berangkat sekolah," ujar pelatih yang memimpin Indonesia meraih medali Olimpiade Paris 2024 itu.

Hendra menyatakan, jika tindakan tersebut dianggap sebagai sebuah pelecehan seksual, maka dirinya menerima hal tersebut. Tetapi baginya, publik juga harus tahu dalam konteks seperti apa dirinya melakukan tindakan itu.

Pelatih itu menyebut, berdasarkan informasi yang dia ketahui, ada lima atlet putra dan tiga putri yang melaporkannya kepada Ketua Umum PP FPTI Yenny Wahid, terkait dugaan kedua tindakan tersebut.

Salah satu dari tiga atlet putri yang melapor, bahkan juga telah meminta maaf kepada Hendra dengan disaksikan sejumlah atlet lainnya pada pertengahan Januari lalu. Atlet muda bersangkutan merasa tindakan yang seharusnya bukan masalah itu, justru menjadi polemik dan kini menyudutkan sang pelatih.

Lebih lanjut dia menceritakan, psikolog tim menyatakan tindakannya telah melecehkan atlet putri. Padahal dirinya sudah bekerja sama selama 12 tahun dan sebelumnya tidak pernah sekali pun perilaku itu diperingatkan sebagai tindakan pelecehan seksual, meski sudah diketahui psikolog.

"Jadi menurut saya, ini memang terkonsep untuk memojokkan, begitu pun ya tidak apa-apa, saya terima penonaktifan sebagai pelatih kepala itu, meski sampai saat ini tidak ada undangan federasi kepada saya untuk mengklarifikasi informasi yang beredar," kata dia menambahkan.

0 comments

    Leave a Reply