KKP dan WWF Temukan Dugong serta Karang Purba di Perairan Romang-Damer Maluku Barat Daya | IVoox Indonesia

February 8, 2026

KKP dan WWF Temukan Dugong serta Karang Purba di Perairan Romang-Damer Maluku Barat Daya

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara bersama Senior Project Manager Yayasan WWF Indonesia, Hafizh Adyas dalam konferensi pers di Jakarta pada Kamis (5/2/2026). IVOOX.ID/Fahrurrazi Assyar

IVOOX.id – Ekspedisi laut yang dilakukan di wilayah timur Indonesia kembali mengungkap kekayaan ekosistem yang selama ini luput dari perhatian. Perairan Kepulauan Romang dan Damer, Maluku Barat Daya, terbukti menyimpan populasi dugong dalam jumlah signifikan serta struktur terumbu karang purba yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun. Temuan ini memperkuat posisi kawasan tersebut sebagai salah satu wilayah dengan nilai ekologis tinggi di Indonesia.

Riset dilakukan melalui program Ekspedisi Romang Damer 2025 yang melibatkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama WWF Indonesia. Dalam ekspedisi tersebut, tim peneliti mendokumentasikan lebih dari 30 individu dugong, mamalia laut langka yang dikenal sebagai indikator penting kesehatan ekosistem pesisir. Selain itu, keberadaan paus orca juga tercatat selama kegiatan penelitian berlangsung.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, menilai hasil ekspedisi ini semakin menegaskan peran strategis Romang dan Damer bagi keberlanjutan ekosistem laut nasional. “Temuan ini tentunya memiliki nilai ilmiah yang sangat tinggi dan menegaskan pentingnya Romang Damer sebagai kawasan dengan fungsi ekologis yang sangat strategis,” ujar Koswara dalam gelar wicara Bincang Bahari di Media Center KKP, Jakarta.

Menurut Koswara, wilayah Romang dan Damer kerap disebut sebagai “pulau yang terlupakan”, meski memiliki keanekaragaman hayati laut yang luar biasa. Kawasan ini tidak hanya berfungsi menjaga keseimbangan lingkungan laut, tetapi juga menopang kehidupan masyarakat pesisir yang bergantung pada sumber daya alam laut.

Pemerintah sendiri telah menetapkan perairan Romang dan Damer sebagai kawasan konservasi melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4 dan Nomor 6 Tahun 2022. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi pengelolaan laut berbasis ilmu pengetahuan, partisipasi masyarakat, dan selaras dengan penerapan ekonomi biru.

Senior Project Manager Yayasan WWF Indonesia, Hafizh Adyas, menjelaskan bahwa riset ini dilakukan untuk memperbarui data keanekaragaman hayati yang terakhir kali dikaji secara komprehensif lebih dari satu dekade lalu. Fokus penelitian mencakup tiga ekosistem utama, yakni terumbu karang, lamun, dan mangrove.

Hasil kajian menunjukkan tutupan karang hidup berada di kisaran 39 hingga 51 persen, yang menandakan kondisi ekosistem masih relatif baik. Tim peneliti juga menemukan struktur karang berusia sangat tua. “Hasil analisis kami menemukan beberapa karang yang purba gitu. Purba itu usianya udah 100-200 tahun. Jadi karang itu kan koloni yang tumbuh dia. Jadi kalau karang sebesar itu, itu bisa kita duga usianya sudah lebih dari antara 100 sampai 200 tahun,” kata Hafizh.

Selain itu, penelitian mencatat sembilan jenis lamun dengan tingkat kerapatan sekitar 57 persen serta sedikitnya 43 spesies mangrove dengan kondisi hutan yang masih utuh. Lebih dari 200 spesies satwa laut berstatus dilindungi, rentan, hingga terancam punah juga teridentifikasi di kawasan ini.

Sinergi antara pemerintah, organisasi konservasi, akademisi, dan masyarakat lokal diharapkan mampu menjaga keberlanjutan Romang dan Damer, sekaligus membuka peluang ekonomi berkelanjutan bagi generasi mendatang.

0 comments

    Leave a Reply