Mitigasi Banjir di Jakarta Perlu Libatkan Proses Alam | IVoox Indonesia

April 9, 2026

Mitigasi Banjir di Jakarta Perlu Libatkan Proses Alam

antarafoto-banjir-di-permukiman-padat-penduduk-kedoya-1772979300-1
Warga beraktivitas di permukiman padat penduduk yang terendam banjir di Jalan Adhi Karya Pintu Air, Kedoya Selatan, Jakarta Barat, Minggu (8/3/2026). Banjir yang merendam permukiman tersebut disebabkan meluapnya Kali Pesanggrahan akibat tingginya curah hujan yang mengguyur sejak Sabtu (7/3) malam hingga Minggu (8/3) pagi. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

IVOOX.id – Lembaga penelitian World Resources Institute (WRI) Indonesia menyampaikan bahwa pendekatan mitigasi banjir di Jakarta dan wilayah penyangga (Bodetabek) harus digeser dari semata mengalirkan air secepatnya dan semaksimal mungkin, menjadi menahan air semaksimal mungkin secara bertahap.

"Bisa digeser dari pendekatan mengalirkan air menjadi pendekatan untuk menahan air semaksimal mungkin, bertahap dari hulu ke hilir dengan melibatkan faktor atau proses-proses alam. Jadi, pada akhirnya pendekatan ini jadi lebih maksimal," kata Research Specialist WRI Indonesia, Yudhistira Pribadi dalam diskusi di Jakarta, Rabu (8/4/2026), dikutip dari Antara.

Pendekatan yang dimaksud yakni mengusung konsep memanfaatkan alam secara optimal (Nature-based Solutions/NbS). Yudhistira mengatakan, pendekatan ini juga mempertimbangkan letak wilayah yakni hulu, tengah, dan hilir.

Misalnya, untuk di wilayah hulu sungai, pendekatan restorasi lanskap dengan ruang terbuka hijau seperti taman multifungsi lebih sesuai untuk diimplementasikan di sana.

Sementara di wilayah tengah, misalkan Depok, Bogor dan sekitarnya, kolam buatan atau retensi dengan taman multifungsi akan lebih banyak bermanfaat.

"Karena fungsinya salah satunya adalah mengurangi tingkat aliran puncak dari banjir yang di sungai, dan mendistribusikan ke kolam-kolam retensi," kata Yudhistira.

Sedangkan di wilayah hilir yang cenderung lebih padat, pendekatan dengan kolam buatan atau retensi dipadukan dengan taman multifungsi akan lebih tepat.

"Contohnya, di Jakarta sudah ada pompa air untuk banjir, kemudian tanggul-tanggul sungai yang dikombinasikan dengan taman-taman multifungsi. Ini bisa lebih efektif untuk menambah kapasitas penyimpanan air sementara, dan melengkapi pendekatan berbagai macam infrastruktur pengendali banjir yang sudah ada," jelas Yudhistira.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta secara bertahap merancang waduk, embung, atau situ yang tak hanya menampung air untuk menurunkan debit banjir di ibu kota, melainkan juga dapat berfungsi sebagai ruang terbuka hijau atau ruang publik.

Waduk didesain dengan menerapkan pendekatan pengelolaan air yang mengintegrasikan ekosistem alami dengan infrastruktur buatan sehingga lebih adaptif terhadap perubahan alam (solusi berbasis alam). Misalnya, penanaman vegetasi di tepi waduk dan pembuatan taman multifungsi.

Beberapa waduk dengan konsep NbS walaupun belum sempurna antara lain Waduk Brigif, Waduk Aseni, Waduk Lebak Bulus, dan Waduk Pondok Ranggon.

Selain itu, sejumlah waduk yang masih dibangun seperti Waduk Batu Bangkong, Waduk Bambu Hitam, Waduk Giri Kencana, dan Waduk Lapangan Merah juga mengarah pada konsep NbS.

0 comments

    Leave a Reply