Pelindo Targetkan Arus Peti Kemas 13,77 Juta TEUs di Seluruh Terminal pada 2026 | IVoox Indonesia

February 11, 2026

Pelindo Targetkan Arus Peti Kemas 13,77 Juta TEUs di Seluruh Terminal pada 2026

Pengiriman alat baru ke terminal peti kemas
Pengiriman alat baru ke terminal peti kemas. ANTARA/HO-Pelindo

IVOOX.id – Sejumlah terminal peti kemas yang dioperasikan oleh PT Pelindo Terminal Petikemas akan dilengkapi dengan alat bongkar muat baru untuk meningkatkan layanan.

"Kami optimistis melihat geliat industri di berbagai daerah. Pertumbuhan ekonomi nasional menjadi bahan bakar utama bagi kami untuk mencapai target ini," kata Corporate Secretary Pelindo Terminal Petikemas Widyaswendra di Surabaya, Jatim, Selasa (10/2/2026), dikutip dari Antara.

Widyaswendra mengatakan optimisme tersebut didorong oleh solidnya kinerja ekonomi nasional serta meningkatnya aktivitas industri di berbagai wilayah.

Sejumlah terminal pun diproyeksikan bakal menjadi motor pertumbuhan arus peti kemas seperti di Terminal Peti Kemas Kendari yang akan terdorong oleh meningkatnya ekspor nikel.

Di Kalimantan Utara, Terminal Peti Kemas Tarakan bersiap menangkap potensi logistik gas alam cair (LNG) sedangkan di kawasan timur Indonesia yakni Terminal Peti Kemas Merauke mencatat kenaikan arus barang seiring masifnya dukungan logistik untuk proyek strategis nasional (PSN).

Untuk Pulau Jawa, Terminal Peti Kemas Semarang diprediksi semakin sibuk sejalan dengan berkembangnya Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) dan Kawasan Industri Kendal (KIK) yang mendorong aktivitas ekspor-impor sektor manufaktur.

Sementara itu, Pelindo Terminal Petikemas mencatat arus peti kemas luar negeri tahun lalu sebanyak 4,40 Juta TEUs atau meningkat 10,28 persen dibandingkan periode tahun 2024.

Jumlah tersebut terdiri atas peti kemas impor sebanyak 2,12 Juta TEUs, peti kemas ekspor 2,25 Juta TEUs, dan peti kemas transhipment 30 ribu TEUs.

"Untuk mendukung pencapaian target tahun ini, sejumlah terminal peti kemas yang kami kelola akan dilengkapi alat bongkar muat baru untuk meningkatkan kualitas layanan peti kemas bagi para pengguna jasa perusahaan," ujar Widyaswendra.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno memperkirakan ekspor Indonesia akan tumbuh sekitar 7 persen pada 2026 seiring semakin banyaknya perjanjian perdagangan bebas atau free trade agreement (FTA) yang dijalin dengan negara mitra.

"FTA membuka akses pasar lebih luas dan menurunkan hambatan tarif, sehingga produk ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif," kata Benny, dikutip dari Antara.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Trismawan Sanjaya memproyeksikan sektor transportasi dan pergudangan akan tumbuh antara 10 sampai 11,6 persen dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai Rp1.700 triliun.

Lonjakan ini, menurut Trismawan, sebagian besar didorong oleh ledakan transaksi perdagangan digital dan e-commerce serta proyek ketahanan pangan dan inisiatif pemerintah lainnya.Pelindo Operasikan Alat Bongkar Muat Baru

Sejumlah terminal peti kemas yang dioperasikan oleh PT Pelindo Terminal Petikemas akan dilengkapi dengan alat bongkar muat baru untuk meningkatkan layanan.

Corporate Secretary Pelindo Terminal Petikemas Widyaswendra mengatakan alat baru itu meliputi 13 unit alat bongkar muat jenis quay container crane (QCC) atau alat angkat peti kemas di dermaga dan 26 unit alat bongkar muat jenis rubber tyred gantry crane (RTG) atau alat angkat peti kemas di lapangan penumpukan.

"Alat-alat tersebut rencananya akan mulai tiba secara bertahap pada semester II tahun 2026," kata Widyaswendra di Surabaya, Jatim, Selasa (10/2/2026), dikutip dari Antara.

Widyaswendra mengatakan alat tersebut akan ditempatkan di sejumlah terminal utama seperti TPK Belawan di Sumatera Utara, TPS Surabaya di Jawa Timur, dan TPK Semarang di Jawa Tengah.

Terminal peti kemas lainnya yang akan menerima alat baru adalah TPK Panjang di Lampung, TPK Perawang di Riau, dan TPK Banjarmasin di Kalimantan Selatan.

Selanjutnya, adalah TPK Nilam di Jawa Timur, TPK Kendari di Sulawesi Tenggara, dan TPK Kijing di Kalimantan Barat.

Selain mendatangkan alat baru, Pelindo Terminal Petikemas juga akan melakukan optimalisasi aset sejumlah alat baik QCC maupun RTG untuk mendukung kehandalan bongkar muat di terminal lainnya seperti di TPK Berlian yang akan dilengkapi dengan dua unit QCC.

Sementara itu, Ketua DPP Indonesia National Shipowners' Association (INSA) Carmelita Hartoto​​​​​​​ menuturkan perlunya perkuatan kolaborasi antar pemangku kepentingan di industri kepelabuhanan.

Menurutnya, pembenahan infrastruktur dan suprastruktur pelabuhan perlu dilakukan seiring pertumbuhan lalu lintas barang yang setiap tahun terus meningkat.

"Dukungan infrastruktur, peralatan dan sistem operasi pelabuhan, harus terus diperbarui agar distribusi logistik nasional lebih optimal," kata Carmelita, dikutip dari Antara.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Trismawan Sanjaya​​​​​​​ menyoroti tiga hal utama yakni ketidakpastian regulasi, disparitas infrastruktur dan sumber daya manusia antarwilayah kepulauan dan kebutuhan standardisasi layanan termasuk di pelabuhan.

Ia menekankan infrastruktur logistik berbasis teknologi dan integrasi layanan menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing global.

"Semua pihak memiliki peran dalam mata rantai logistik untuk menghadirkan biaya logistik yang kompetitif, baik itu operator pelabuhan, jasa transportasi, hingga pergudangan," kata Trismawan, dikutip dari Antara.

0 comments

    Leave a Reply