Pembiayaan Utang Pemerintah Capai Rp 185,3 Triliun hingga Februari 2026 | IVoox Indonesia

14 Maret 2026

Pembiayaan Utang Pemerintah Capai Rp 185,3 Triliun hingga Februari 2026

Konferensi Pers APBN KiTA Edisi Maret 2026
Konferensi Pers APBN KiTA Edisi Maret 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu (11/3/2026) (ANTARA/Bayu Saputra)

IVOOX.id – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah menarik pembiayaan utang sebesar Rp185,3 triliun hingga 28 Februari 2026. Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengatakan secara keseluruhan realisasi pembiayaan APBN tahun 2026 masih terjaga dengan baik dan berada dalam batas yang terkendali.

“Strategi pembiayaan dilakukan secara antisipatif, yaitu untuk memastikan ketersediaan kas tetap memadai, sekaligus menjaga fleksibilitas pembiayaan untuk merespons dinamika pasar yang sedang terjadi,” ujar Juda dalam Konferensi Pers APBN Kita di Jakarta pada Rabu (11/3/2026).

Juda mengatakan, hingga 28 Februari 2026, total realisasi pembiayaan anggaran sebesar Rp164,2 triliun atau sekitar 23,5 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN. Besaran realisasi tersebut terdiri atas pembiayaan utang sebesar Rp185,3 triliun dan pembiayaan non utang negatif Rp21,1 triliun.

Sebagian besar pembiayaan utang masih ditopang oleh pendanaan dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dengan minat investor yang tetap tinggi. Hal ini tercermin dari bid to cover ratio untuk Surat Utang Negara (SUN) yang tetap terjaga di atas dua kali.

Sementara itu, untuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) rasio tersebut bahkan mencapai 3,1 kali. Capaian ini juga tercatat lebih baik dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

“Ini juga menunjukkan bahwa minat dan kepercayaan investor terhadap fundamental perekonomian kita masih terjaga di tengah dinamika pasar keuangan global yang sangat penuh dengan ketidakpastian,” ujar Juda.

Lebih lanjut ia menyampaikan, minat investor asing terhadap SBN juga tetap terjaga. Bid to cover ratio investor asing untuk SUN tercatat sebesar 2,4 kali, sedangkan untuk SBSN mencapai 2,8 kali.

Angka ini menurutnya menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun lalu. Pemerintah juga melakukan penerbitan SBN di pasar global pada Februari lalu melalui penerbitan obligasi dalam dua mata uang, yaitu renminbi (CNH) dan euro.

Di sisi lain, perkembangan pasar SBN masih dipengaruhi oleh dinamika global yang cukup volatile. Secara year-to-date, imbal hasil SBN tercatat meningkat sekitar 55 basis poin, yang turut mendorong pelebaran spread yield SBN terhadap US Treasury. Per 6 Maret 2026, spread SBN tenor 10 tahun terhadap US Treasury tercatat sekitar 243 basis poin sebagai bagian dari penyesuaian terhadap kondisi pasar global.

“Posisi spread Indonesia masih berada pada level yang kompetitif. Pemerintah bersama BI, OJK, dan pihak terkait akan terus memantau perkembangan tersebut untuk memastikan stabilitas pasar keuangan domestik,” kata Juda.

0 comments

    Leave a Reply