Pemerintah Fokus Perkuat Konsumsi Domestik Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah

IVOOX.id – Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah fokus memperkuat konsumsi domestik sebagai antisipasi dampak kondisi di Timur Tengah yang menunjukkan potensi eskalasi perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran.
"Jadi kita harus tingkatkan daya beli masyarakat, kita tingkatkan ekosistem ekonomi kita di dalam negeri. Jadi semua berjalan seperti biasa," ujarnya saat meninjau harga dan ketersediaan pangan di Pasar Terong Makassar, Sulsel, Rabu (4/3/2026), dikutip dari Antara.
Mendag Budi mengakui perang Amerika Serikan dan Iran yang terjadi saat ini akan memberikan pengaruh terhadap perekonomian khususnya untuk kebutuhan pasar-pasar ekspor.
Untuk itu dinilai perlu dilakukan berbagai upaya upaya agar dampak dari kondisi yang terjadi saat ini tidak terlalu berpengaruh terhadap ekonomi dalam negeri.
"Kita lihat pasar-pasar ekspor kita terutama tentu akan sedikit terpengaruh tapi akan tetap kita monitor. Kita juga berharap segera selesai (konflik)," ujarnya.
Terkait peninjauan di pasar tradisional hari ini, Mendag yang didampingi Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman mengatakan bahwa secara umum harga dan stok pangan tetap stabil.
Pemerintah juga terus berupaya memastikan bahwa selama Ramadhan dan menjelang lebaran, pasokan bahan pokok terjamin pasokannya dan harganya stabil.
Sebelumnya, ia menyebut eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran dinilai berpotensi menekan sejumlah sektor perdagangan Indonesia, terutama yang berkaitan langsung dengan energi dan biaya logistik.
Budi menyebut dampak terbesar akan terasa apabila terjadi gangguan distribusi minyak global, termasuk kemungkinan penutupan Selat Hormuz. Menurutnya, sektor energi akan menjadi yang paling awal terdampak.
"Bahan bakar pasti akan naik ya, kalau itu memang benar-benar terjadi (potensi penutupan Selat Hormuz). Mudah-mudahan nggak ya," kata Menteri Perdagangan Budi Santoso di Jakarta, Senin (2/3/2025), dikutip dari Antara.
Ia mengatakan sektor manufaktur menjadi salah satu yang paling rentan. Indonesia pengolahan yang bergantung pada energi untuk proses produksi akan menghadapi kenaikan biaya operasional.
Selain itu, ongkos produksi yang meningkat dinilai berisiko menekan margin usaha atau mendorong kenaikan harga barang. Kondisi ini berpotensi menurunkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Lebih lanjut, sektor ekspor akan menghadapi tekanan ganda, yakni kenaikan biaya produksi dan pelemahan permintaan global akibat ketidakpastian ekonomi.
"Ekspor kita juga pasti cost-nya menjadi naik. Artinya, kita dan negara lain juga semua terdampak. Negara lain yang butuh bahan baku juga terdampak, yang barang menjadi juga terdampak," ujarnya.


0 comments