Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Meninggal akibat Serangan Amerika Serikat dan Israel

IVOOX.id – Televisi pemerintah Iran, Ahad, 1 Maret 2026, mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei meninggal akibat serangan Israel dan Amerika Serikat. Media Israel dan Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengklaim bahwa Khamenei telah tewas.
Mengutip Antara, Ayatollah Ali Khamenei telah memimpin negara dengan masa jabatan terlama di Timur Tengah. Ia menjadi pemimpin tertinggi Iran pada 1989 setelah menjabat sebagai presiden dari 1981 hingga 1989.
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dikonfirmasi gugur akibat serangan rudal AS-Israel terhadap tempat kerjanya. Menyusul wafatnya Khamenei, pemerintah Iran mengumumkan masa berkabung selama 40 hari dan libur kerja selama seminggu.
Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Mokhber mengatakan bahwa presiden Iran, ketua pengadilan, dan anggota Dewan Wali Iran akan menjalankan tugas Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei yang gugur dalam serangan Amerika Serikat dan Israel.
"Presiden, ketua pengadilan, dan seorang anggota Dewan Wali akan menjalankan tugas Pemimpin Tertinggi di masa kekosongan jabatan," ungkap kantor berita IRNA mengutip Wapres Mokhber, Sabtu (28/2/2026), dikutip dari Antara.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Sabtu, mengumumkan dimulainya "operasi ofensif paling brutal dalam sejarah angkatan bersenjata Iran" menyusul konfirmasi syahidnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
"Dalam beberapa saat, operasi ofensif paling brutal dalam sejarah angkatan bersenjata Republik Islam Iran terhadap Israel dan pangkalan teroris Amerika akan dimulai," sebut pernyataan IRGC seperti dikutip stasiun televisi pemerintah Iran.
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan pada Sabtu terhadap sejumlah target di Iran, termasuk Teheran.
Agresi militer AS dan sekutu utamanya di Timur Tengah itu tidak hanya menyebabkan kerusakan tetapi juga korban sipil.
Iran kemudian membalas agresi itu dengan melancarkan serangan rudal balasan terhadap wilayah Israel, serta terhadap target militer AS di Timur Tengah.


0 comments