Peneliti Temukan Bias Soal Pariwisata dalam Buku Teks Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing

IVOOX.id – Peneliti yang juga pengajar Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Eko Widianto menemukan adanya bias pariwisata dalam buku teks Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).
"Fokus utama riset ini adalah mengevaluasi bagaimana materi budaya disajikan dalam buku ajar bahasa tersebut," kata Eko dalam pernyataannya, Kamis (30/4/2026), dikutip dari Antara.
Eko yang saat ini tengah menempuh studi doktoral di University of Galway, Irlandia, menorehkan prestasi akademik internasional melalui risetnya tersebut.
Riset terbarunya yang berjudul "Language teaching or cultural selling? A critical discourse analysis of tourism bias in BIPA textbooks" resmi diterbitkan oleh jurnal bergengsi Humanities and Social Sciences Communications pada April 2026.
Penelitian yang digarapnya bersama Tina-Karen Pusse itu melakukan analisis kritis terhadap buku teks BIPA menggunakan metode Critical Discourse Analysis (CDA).
Temuan utamanya menunjukkan adanya kecenderungan atau bias pariwisata yang sangat kuat dalam materi pengajaran budaya Indonesia.
"Artikel ini mempertanyakan apakah buku teks BIPA saat ini benar-benar berfungsi sebagai media pengajaran bahasa yang murni," katanya.
Atau, kata dia, justru telah bergeser menjadi alat penjualan budaya (cultural selling) yang terlalu mengedepankan sisi eksotisme pariwisata.
"Riset ini menyoroti bahwa representasi budaya Indonesia dalam buku teks seringkali terjebak pada narasi pariwisata yang dangkal," ucap Eko.
Hal tersebut berpotensi mengabaikan kompleksitas sosial dan keragaman identitas budaya Indonesia yang sesungguhnya.
Menurut dia, materi BIPA seharusnya memberikan pemahaman budaya yang lebih mendalam dan inklusif, bukan sekadar mempromosikan destinasi wisata.
"Temuan ini sangat penting bagi para penyusun kebijakan pendidikan, penulis buku teks, dan pengajar BIPA, untuk melakukan dekonstruksi terhadap konten-konten yang bias agar pembelajar asing mendapatkan gambaran lebih objektif dan kritis mengenai Indonesia," kata Eko Widianto.


0 comments