Pengelola Geopark Rinjani Usulkan Pembangunan Shelter Sampah di Gunung Rinjani | IVoox Indonesia

March 30, 2026

Pengelola Geopark Rinjani Usulkan Pembangunan Shelter Sampah di Gunung Rinjani

General Manager Geopark Rinjani Qwadru Putro Wicaksono
General Manager Geopark Rinjani Qwadru Putro Wicaksono memaparkan upaya menjaga kelestarian lingkungan dalam program gelar wicara Festival Rinjani Begawe di Teras Udaya, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (28/3/2026). ANTARA/Sugiharto Purnama

IVOOX.id – Pengelola Geopark Rinjani mengusulkan pembangunan tempat penampungan atau shelter sampah sebagai upaya mengatasi persoalan sampah yang mengotori jalur pendakian Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Kami menawarkan konsep shelter di beberapa pos pendakian, sehingga pendaki bisa mengumpulkan sampah di sana," kata General Manager Geopark Rinjani Qwadru Putro Wicaksono saat ditemui dalam acara Festival Rinjani Begawe di Mataram, Sabtu (28/3/2026), dikutip dari Antara.

Qwadru menjelaskan shelter sampah bertujuan untuk memudahkan pengelolaan sampah dengan menyediakan titik kumpul sementara bagi sampah yang dibawa para pendaki saat melintasi jalur pendakian Gunung Rinjani.

Geopark Rinjani telah memaparkan konsep shalter sampah tersebut kepada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi NTB.

Menurut Qwadru, skema pembiayaan pembangunan dan pengelolaan shelter sampah masih dalam tahap kajian termasuk kemungkinan penerapan retribusi tambahan bagi pendaki atau pengalokasian sebagian dari retribusi wisata pendakian.

Ia menilai biaya retribusi pendakian saat ini cukup besar, namun pengelolaannya masih terpusat ke pemerintah pusat sehingga belum optimal mendukung penanganan sampah di lapangan.

Geopark Rinjani menawarkan pemanfaatan teknologi pesawat tanpa awak atau drone untuk mengangkut sampah dari tempat pengumpulan mengingat keterbatasan tenaga manusia dalam proses angkut turun melintasi medan berat jalur pendakian.

"Biaya retribusi pendakian lumayan, tapi uangnya lari ke pemerintah pusat semua. Jadi, bagaimana supaya (retribusi pendakian) itu juga bisa ada alokasi untuk penanganan sampah," ucap Qwadru.

Lebih lanjut ia menuturkan pembangunan shelter sampah tidak langsung dilakukan di seluruh jalur pendakian. Tahap awal hanya berfokus kepada jalur paling ramai dilalui pendaki, yakni Sembalun di Lombok Timur dan Senaru di Lombok Utara.

Geopark Rinjani menekankan pentingnya penguatan regulasi berupa sanksi tegas dan pengetatan pemeriksaan barang bawaan pendaki saat naik maupun turun dari kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).

Berdasarkan laporan statistik kantor Balai TNGR pada 2025, sampah pendakian mencapai 30,35 ton dan sampah non pendakian sebanyak 1,19 ton. Jumlah kunjungan wisata pendakian tercatat sebanyak 80.214 orang, sedangkan jumlah kunjungan wisata non pendakian mencapai 52.108 orang.

0 comments

    Leave a Reply