Prabowo Minta Perguruan Tinggi Percepat Riset PLTS dan Kendaraan Listrik | IVoox Indonesia

8 Maret 2026

Prabowo Minta Perguruan Tinggi Percepat Riset PLTS dan Kendaraan Listrik

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menjawab pertanyaan wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/3/2026). ANTARA/Maria Cicilia Galuh

IVOOX.id – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan, Presiden Prabowo Subianto meminta perguruan tinggi mendukung percepatan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) serta konversi kendaraan listrik.

Hal tersebut disampaikan Brian usai rapat terbatas dengan Presiden dan sejumlah menteri, termasuk Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga CEO Danantara Rosan Roeslani, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026, sore.

"Jadi kami dari perguruan tinggi, riset-riset, hasil-hasil penelitian, dan juga kajian-kajian itu diminta mendukung percepatan solar cell ya, PLTS," kata Brian, dikutip dari Antara.

Brian menjelaskan dukungan tersebut dilakukan melalui riset, kajian, serta hasil penelitian dari perguruan tinggi untuk membantu percepatan pemanfaatan energi terbarukan dan bersih, khususnya PLTS yang diarahkan untuk menggantikan pembangkit listrik berbahan bakar diesel yang dinilai masih mahal.

Dalam pelaksanaannya, koordinasi percepatan pengembangan tersebut berada di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sementara perguruan tinggi diminta memberikan dukungan dari sisi penelitian dan kajian ilmiah.

Selain percepatan PLTS, kata dia, Presiden Prabowo juga mendorong percepatan konversi menuju kendaraan listrik guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM).

"Yang kedua juga adalah bagaimana mempercepat konversi menjadi electric vehicle ya, kendaraan listrik. Kenapa? Karena kedua hal tadi, pembangkit yang masih diesel maupun kendaraan listrik itu kan masih tergantung pada BBM ya," kata dia.

Brian menyebut upaya tersebut dilakukan karena pembangkit listrik berbahan bakar diesel dan penggunaan kendaraan berbasis BBM masih bergantung pada pasokan bahan bakar minyak, sementara harga BBM dinilai tinggi dan dapat berdampak besar terhadap perekonomian.

"Jadi Pak Presiden meminta agar tadi beberapa menteri yang terkait untuk mempercepat pelaksanaan ini, sehingga ketergantungan kita terhadap impor, ketergantungan kita terhadap harga yang mungkin cepat berubah itu bisa dikurangi," kata dia.

Presiden, lanjut Brian, juga meminta percepatan penggunaan kompor listrik untuk menggantikan kompor berbahan bakar LPG guna mengurangi ketergantungan terhadap LPG serta menekan beban subsidi energi.

"Kita diminta mempercepat juga bagaimana kompor listrik itu bisa menggantikan kompor dari LPG, sehingga nanti ketika harga LPG naik, ketergantungan kita terhadap LPG, subsidi kita, beban subsidi LPG, listrik itu intinya harus kita kurangi, sehingga BBM kita lebih stabil," ucapnya.

Brian mengatakan percepatan kajian dan penelitian terkait tiga hal tersebut akan dilakukan oleh perguruan tinggi dan dikoordinasikan oleh Menteri ESDM.

"Kementerian Diktisaintek sifatnya kita mendukung hasil-hasil kajian, kita percepat, kajian-kajian, penelitian-penelitian terkait tiga hal tadi, itu kita akan dikoordinasikan oleh Bapak Menteri ESDM," pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan pemerintah akan membentuk satuan tugas (Satgas) transisi energi untuk mempercepat implementasi program, termasuk konversi sepeda motor konvensional menjadi listrik.

Ia menyebut satgas ini dibentuk untuk percepatan konversi dari kendaraan bermotor konvensional yang jumlahnya mencapai 120 juta motor menjadi motor listrik.

"Bapak Presiden membentuk tim Satgas untuk bisa melakukan percepatan ini. Dan tadi kami diberikan tugas oleh Bapak Presiden sebagai Ketua Satgas dalam menjalankan dan menerjemahkan secara cepat," ujar Bahlil, dikutip dari Antara.

Presiden, kata Bahlil, menargetkan implementasi program tersebut dapat berjalan maksimal dalam waktu tiga hingga empat tahun, bahkan diharapkan bisa terealisasi lebih cepat.

Selain mempercepat konversi motor konvensional, satgas tersebut juga dibentuk untuk memastikan berbagai program transisi energi dapat segera diimplementasikan, termasuk pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt.

Satgas ini juga bertugas menerjemahkan kebijakan pemerintah secara cepat agar program transisi energi, pengembangan energi terbarukan, dan elektrifikasi kendaraan dapat berjalan efektif.

Bahlil menambahkan, percepatan transisi energi tidak hanya bertujuan mempercepat penggunaan energi bersih, tetapi juga untuk meningkatkan efisiensi anggaran negara.

0 comments

    Leave a Reply