PT Garam Perluas Proyek dari Balikpapan hingga Madura, Bidik Swasembada Garam Industri | IVoox Indonesia

February 13, 2026

PT Garam Perluas Proyek dari Balikpapan hingga Madura, Bidik Swasembada Garam Industri

Sekretaris Perusahaan PT Garam, Indra Kurniawan
Sekretaris Perusahaan PT Garam, Indra Kurniawan dalam acara Bincang Bahari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Jakarta Kamis (12/2/2026). IVOOX.ID/Fahrurrazi Assyar

IVOOX.id – PT Garam (Persero) mengembangkan sejumlah proyek strategis di berbagai daerah untuk mendongkrak produksi garam industri. Salah satunya dilakukan melalui kolaborasi dengan Pertamina di Balikpapan, Kalimantan Timur, yang ditargetkan mampu memproduksi hingga 1 juta ton garam industri per tahun.

Proyek ini memanfaatkan air buangan atau brine dari fasilitas pengolahan air laut milik Pertamina. Selama ini, air berkadar garam tinggi dari fasilitas Marine Development and Maintenance Platform (MDMP) dinetralisir dan dikembalikan ke laut. Ke depan, air tersebut akan diolah menggunakan teknologi Mechanical Vapor Recompression (MVR) agar menghasilkan garam industri bernilai tambah.

Sekretaris Perusahaan PT Garam, Indra Kurniawan, mengatakan saat ini perseroan masih menyusun studi kelayakan. “Saat ini kami sedang menyusun feasibility study (FS). Pertamina menyambut baik rencana ini dan pada April ditargetkan masuk fase lanjutan. Skema ini akan menjadi entitas kolaborasi antara PT Garam, Pertamina, dan Danantara,” ujarnya di Jakarta Kamis (12/2/2026).

Kapasitas awal proyek dirancang mencapai 1 juta ton per tahun dengan memanfaatkan air buangan minimal 4 derajat baume. Produksi akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan sektor CAFE (Chemical, Alkali, Food, and Energy) yang selama ini masih bergantung pada pasokan impor.

Selain Balikpapan, PT Garam juga menjalankan ekspansi di sejumlah wilayah lain. Di Rote, Nusa Tenggara Timur, perusahaan masih menunggu penugasan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk pengoperasian lahan penggaraman. Sementara di Bipolo seluas 300 hektare, proyek dikembangkan bersama Q-Tech Jerman dengan dukungan pendanaan KfW menggunakan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).

Perusahaan juga menggandeng CityCon untuk proyek MVR berkapasitas 100 ribu ton, serta investor asal Arab Saudi dengan komitmen pembangunan kapasitas 400 ribu ton. Di Madura, PT Garam membangun pabrik garam konsumsi berkapasitas 8–160 ribu ton per tahun bekerja sama dengan pelaku usaha lokal.

Indra menegaskan seluruh proyek tersebut telah masuk dalam roadmap nasional untuk menutup kesenjangan kebutuhan garam industri, sejalan dengan target penghapusan impor sesuai Perpres 2025. “Produksi dari Balikpapan, Rote, dan Bipolo kami arahkan untuk industri CAFE. Dengan kapasitas 1 juta ton di Balikpapan, kami optimistis bisa mengurangi ketergantungan impor secara signifikan,” katanya.

Di sisi lain, PT Garam juga memperkuat peran petambak melalui skema klasterisasi pasar. Produksi berbasis teknologi difokuskan untuk industri, sedangkan pabrik di Madura akan menyerap garam rakyat. Petambak dengan standar NaCl minimal 94 persen dapat menjual hasilnya melalui koperasi mitra resmi.

“Kami ingin memastikan petambak memiliki kepastian serapan dan terdorong meningkatkan kualitas produksi,” kata Indra.

0 comments

    Leave a Reply