Puasa Tapi Tetap Produktif: Cara Atur Energi Biar Nggak “Low Battery” Seharian | IVoox Indonesia

20 Februari 2026

Puasa Tapi Tetap Produktif: Cara Atur Energi Biar Nggak “Low Battery” Seharian

Puasa Tapi Tetap Produktif: Cara Atur Energi Biar Nggak “Low Battery” Seharian
ILUSTRASI: Ivooxid/AI

IVOOX.id, Jakarta - Jam kerja tetap berjalan, target tidak ikut berpuasa, dan notifikasi tetap berdatangan. Tantangannya bukan lagi “kuat atau tidak”, melainkan bagaimana menjaga ritme tubuh agar tetap stabil sepanjang hari.

Berbagai kajian tentang puasa menunjukkan bahwa tubuh sebenarnya mampu beradaptasi dengan perubahan pola makan dan tidur. Setelah beberapa hari pertama, metabolisme mulai menyesuaikan diri dengan ritme baru. Artinya, rasa lemas yang muncul di awal Ramadan sering kali lebih disebabkan oleh perubahan kebiasaan, bukan karena tubuh benar-benar kekurangan energi.

Energi Bukan Soal Banyaknya Makan, Tapi Polanya

Penelitian nutrisi menyebutkan bahwa kombinasi karbohidrat kompleks, protein, dan serat saat sahur membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil lebih lama. Itulah sebabnya makanan seperti nasi merah, roti gandum, oatmeal, telur, kacang-kacangan, dan sayuran lebih direkomendasikan dibanding makanan tinggi gula sederhana.

Lonjakan gula yang cepat memang memberi sensasi segar sesaat, tetapi biasanya diikuti penurunan energi drastis menjelang siang. Pola inilah yang sering membuat tubuh terasa seperti “kehabisan baterai”.

Selain itu, kecukupan cairan saat berbuka hingga sahur juga krusial. Banyak studi kesehatan menyarankan pola minum bertahap di malam hari untuk mencegah dehidrasi ringan yang dapat memicu sakit kepala dan penurunan konsentrasi.

Produktif Itu Mengatur Ritme, Bukan Memaksa Diri

Sejumlah riset tentang manajemen kerja menunjukkan bahwa produktivitas tidak semata-mata ditentukan oleh durasi bekerja, melainkan kemampuan mengatur fokus. Selama Ramadan, jam-jam awal setelah sahur atau pagi hari sering menjadi waktu paling optimal untuk tugas berat yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Menjelang siang hingga sore, tubuh mulai menghemat energi. Waktu ini lebih cocok untuk pekerjaan administratif, diskusi ringan, atau tugas yang tidak terlalu kompleks.

Strategi ini selaras dengan konsep “energy management”, yaitu mengelola kapan kita bekerja keras dan kapan memberi ruang jeda. Bukan bekerja lebih lama, tapi bekerja lebih cerdas.

Tidur Singkat Bisa Jadi Penyelamat

Perubahan jam tidur selama Ramadan sering menjadi penyebab utama turunnya performa. Kurang tidur berdampak pada daya ingat, suasana hati, hingga kemampuan mengambil keputusan.

Beberapa penelitian tentang pola tidur menyebutkan bahwa tidur singkat selama 15–25 menit di siang hari dapat membantu meningkatkan kewaspadaan dan memperbaiki fokus tanpa membuat tubuh terasa berat setelah bangun. Bagi pekerja atau mahasiswa, ini bisa menjadi solusi sederhana namun efektif.

Jaga Emosi, Jaga Energi

Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga mengendalikan emosi. Secara ilmiah, kondisi lapar memang dapat memengaruhi kestabilan suasana hati karena kadar gula darah yang menurun.

Namun, Ramadan justru menjadi momen latihan regulasi diri. Mengelola stres, menghindari konflik tidak perlu, dan menjaga pikiran tetap positif ternyata berdampak langsung pada stamina mental.

Karena kelelahan tidak selalu bersumber dari fisik. Sering kali, energi terkuras oleh tekanan dan emosi yang tidak terkelola.

Ramadan: Momentum Mengubah Pola Kerja

Alih-alih menjadikan puasa sebagai alasan untuk menurunkan performa, banyak profesional justru melihat Ramadan sebagai kesempatan membangun disiplin baru: makan lebih teratur, tidur lebih terkontrol, dan waktu lebih tertata.

Produktif selama berpuasa bukan tentang memaksakan standar yang sama seperti hari biasa, tetapi tentang memahami cara kerja tubuh dan menyesuaikan strategi.

Ketika energi dikelola dengan tepat, Ramadan tidak lagi terasa seperti bulan penuh keterbatasan. Justru sebaliknya, ia menjadi ruang latihan untuk bekerja dengan lebih sadar, lebih efisien, dan lebih seimbang.

Karena pada akhirnya, produktivitas terbaik lahir bukan dari tubuh yang dipaksa, tetapi dari energi yang dijaga dengan bijak.

Penulis: Maulana Haitami

0 comments

    Leave a Reply