Kampus Inggris dan Indonesia Perluas Kerja Sama Pendidikan Transnasional | IVoox Indonesia

13 Maret 2026

Kampus Inggris dan Indonesia Perluas Kerja Sama Pendidikan Transnasional

Country Director di British Council Indonesia dan Asia Tenggara, Summer Xia
Country Director di British Council Indonesia dan Asia Tenggara, Summer Xia dalam diskusi kemitraan pendidikan transnasional Inggris–Indonesia di kantor British Council, Jakarta Selatan, Rabu (11/3/2026). IVOOX.ID/Fahrurrazi Assyar

IVOOX.id – Sejumlah perguruan tinggi dari Inggris dan Indonesia memperkuat kerja sama melalui skema pendidikan transnasional atau transnational education (TNE). Skema ini memungkinkan mahasiswa di Indonesia memperoleh pendidikan dan gelar berstandar Inggris tanpa harus sepenuhnya menempuh studi di Inggris.

Country Director di British Council Indonesia dan Asia Tenggara, Summer Xia, menjelaskan bahwa kualitas program TNE dijaga melalui proses penilaian oleh Quality Assurance Agency for Higher Education (QAA), lembaga yang menilai mutu pendidikan tinggi Inggris baik di dalam maupun luar negeri.

“Respons mahasiswa yang menjalani program TNE ini, kampusnya sendiri, para pengajarnya, dan pemimpin kampusnya, juga diperhatikan dan diukur untuk untuk memastikan apa yang diberikan kampus Inggris di Indonesia ini benar-benar berkualitas,” ujar Summer Xia dalam diskusi kemitraan pendidikan transnasional Inggris–Indonesia di kantor British Council, Jakarta Selatan, Rabu (11/3/2026).

Menurut Summer, program pendidikan transnasional juga dinilai lebih terjangkau bagi mahasiswa Indonesia karena biaya kuliah dan biaya hidup di dalam negeri lebih rendah dibandingkan jika harus belajar langsung di Inggris.

“Sangat cost-effective karena kuliah program gelar di Indonesia lebih murah di Indonesia ketimbang di Inggris, baik dari biaya hidupnya, biaya kuliahnya. Itulah kenapa pendidikan transnasional jadi opsi lebih terjangkau, tapi kualitas pendidikannya sama untuk mahasiswa,” ujarnya.

Skema pendidikan transnasional dapat dilakukan melalui berbagai bentuk, seperti pembukaan kampus cabang di negara mitra, program joint degree atau double degree, kerja sama franchise atau validasi kurikulum, program artikulasi atau fast track, hingga pembelajaran jarak jauh.

Salah satu contoh implementasi kerja sama ini adalah kampus cabang King's College London di kawasan KEK Singhasari, Jawa Timur. Kampus tersebut menawarkan program magister di bidang ekonomi digital dan masa depan digital, serta didukung program beasiswa dari LPDP.

Selain itu, kerja sama juga dilakukan melalui program gelar ganda antara University of Dundee dengan Indonesia International Institute for Life Sciences (i3L) pada bidang biomedis. Program ini memungkinkan mahasiswa memperoleh dua gelar sekaligus dari kedua institusi.

Kemitraan serupa juga dijalankan antara University of Edinburgh dan Universitas Islam Internasional Indonesia melalui program master ganda bidang studi Islam global. Program ini turut didukung beasiswa dari Kementerian Agama Republik Indonesia.

Sementara itu, kerja sama pendidikan transnasional lainnya melibatkan Universitas Gadjah Mada dan Universitas Padjadjaran dengan University of Dundee melalui program gelar ganda, fast track, serta kolaborasi riset di berbagai bidang seperti teknologi, bioteknologi, hukum, hingga kedokteran gigi.

British Council Dorong Kolaborasi Riset Ilmiah Inggris–Indonesia

British Council terus mendorong penguatan kolaborasi riset antara Inggris dan Indonesia agar hasil penelitian dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Salah satu fokus utama kerja sama ini adalah mempercepat proses translasi riset, yakni mengubah temuan ilmiah menjadi solusi praktis yang dapat dimanfaatkan dalam kebijakan, industri, maupun kehidupan sehari-hari.

Melalui kerja sama ini, para peneliti dari kedua negara didorong untuk bekerja bersama dalam berbagai bidang strategis. Tujuannya tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga menciptakan inovasi yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Kolaborasi ini membantu mempertemukan para peneliti, universitas, dan pembuat kebijakan untuk bekerja bersama dalam menghasilkan penelitian yang tidak hanya kuat secara akademis, tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat,” ujar Summer Xia saat diwawancarai secara eksklusif di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Menurut Xia, kemitraan riset antara Inggris dan Indonesia memiliki potensi besar untuk menghasilkan solusi inovatif dalam menghadapi berbagai tantangan global, seperti perubahan iklim dan isu kesehatan.

“Kemitraan riset Inggris-Indonesia punya potensi luar biasa untuk ciptakan solusi inovatif atas tantangan global seperti perubahan iklim dan kesehatan,” jelasnya. “Kerja sama lintas negara ini esensial untuk percepat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi demi masa depan yang lebih baik,” katanya.

Selain mendorong inovasi, program kolaborasi riset ini juga membuka peluang mobilitas bagi peneliti Indonesia melalui berbagai program pertukaran dan beasiswa. Skema tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas riset peneliti muda Indonesia di tingkat internasional.

“Program mobilitas ini memberi kesempatan bagi peneliti Indonesia untuk belajar, berkolaborasi, dan membawa kembali pengetahuan serta jaringan internasional yang dapat memperkuat ekosistem riset di tanah air,” kata Xia.

Kolaborasi ini juga mendorong pertukaran ide dan teknologi antara peneliti dari kedua negara sehingga inovasi yang dihasilkan tidak hanya relevan secara lokal, tetapi juga memiliki potensi penerapan secara global.

0 comments

    Leave a Reply